Headline

Asuransi Menyiapkan Bayar Klaim Banjir Triliunan

JAKARTA. Pelaku asuransi umum was-was klaim akibat banjir akan membengkak. Beberapa asuransi mengaku sudah menerima permohonan bantuan evakuasi dari pemilik polis asuransi hingga mengajukan permohonan klaim.

Di PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance), sejak awal Januari sudah menerima permintaan evakuasi 16 unit kendaraan. Khusus kemarin (17/1), permintaan evakuasi mencapai 11 unit. Indra Baruna, Presiden Direktur Adira Insurance, optimistis meski ada peningkatan permintaan evakuasi, klaim tahun ini tidak akan sebanyak tahun 2007. “Melihat kesiapan saya rasa tidak lebih besar,” ujarnya.

Menurut Indra, nilai klaim banjir tahun ini tidak akan lebih dari Rp 15 miliar. Optimisme itu karena sejak jauh-jauh hari industri asuransi telah mengantisipasi. Misalnya mengirim pesan ke pelanggan perihal penanganan saat banjir. Adira juga menyiapkan layanan derek non-stop 24 jam. Tip berkendara yang baik juga terus disosialisasikan. “Sekarang nasabah sudah cerdas, kalau ada genangan tidak main terjang saja,” kata Indra.

Cristian Wanandi, Presiden Direktur Asuransi Wahana Tata, juga mengakui ada permohonan klaim akibat banjir selama beberapa hari terakhir. Namun dia optimistis, jumlah klaim tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Julian Noor, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), belum bisa memperkirakan peningkatan klaim banjir. Sebab harus menunggu laporan beberapa hari kedepan. Selain itu, sejak banjir besar tahun 2007, industri sudah membuat batasan cover banjir bagi nasabah. Artinya, pelaku asuransi lebih selektif menerima premi risiko bencana banjir. “Asuransi sekarang sangat selektif,” tegasnya.

Meski begitu, pelaku usaha tetap harus waspada. Pasalnya, beberapa asuransi menerima risiko banjir properti perusahaan lantaran masalah loyalitas. Nah, bisa saja dari beberapa perusahaan tersebut ada yang terkena dampak banjir. “Kalau nasabah model ini yang kena, bisa saja asuransi kena klaim lebih besar dari tahun 2007,” terka Julian.

Makanya, AAUI menyarankan industri lebih waspada. Meski masih awal, tetapi ada gejala bahwa cakupan banjir tahun ini lebih luas. Dugaan itu didasarkan dari perbedaan antara peta kerawanan banjir Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodetabek) yang menjadi dasar bagi industri asuransi umum. “Misalnya istana sampai selutut, ini bisa jadi asumsi peningkatan,” kata Julian.

Berdasarkan data AAUI, pada 2002 klaim banjir mencapai Rp 1,5 triliun. Jumlah pengajuan klaim 1.145 polis untuk rumah, 1.804 polis kendaraan bermotor, 547 polis bangunan komersial dan 780 polis pabrik. Jenis klaim tahun itu adalah asuransi properti dan kendaraan bermotor.

Sedangkan klaim akibat banjir selama sepekan pada awal 2007 mencapai Rp 2,1 triliun. Angka klaim tahun 2007 meningkat menjadi
Rp 1,12 miliar per kejadian dari tahun 2002 sekitar Rp 359 juta per kejadian.
(dari berbagi sumber dan kotan)

Related posts:

What Next?

Related Articles